Khutbah Jumat Singkat: Hakikat Pujian dan Celaan Manusia
Khutbah Jumat Singkat: Hakikat Pujian dan Celaan Manusia ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada 7 Rabiul Akhir 1448 H / 18 September 2026 M.
Khutbah Jumat Pertama: Hakikat Pujian dan Celaan Manusia
Ibnul Jauzi berkata, apabila seseorang dipuji dan pujian itu memang sesuai dengan dirinya, ia tetap tidak aman dari penyakit hati, seperti cinta pujian, ujub, dan kesombongan. Pada akhirnya, pujian tersebut dapat membahayakan dirinya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada seseorang yang memuji temannya di hadapannya,
قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ
“Engkau telah memenggal leher saudaramu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pujian sering kali menghilangkan keikhlasan, menimbulkan ujub dan kesombongan, serta membuat seseorang lebih menyukai pujian manusia.
Berbeda dengan pujian, celaan dapat menjadi kesempatan untuk introspeksi dan memperbaiki diri apabila celaan itu memang sesuai dengan keadaan kita. Jika celaan itu tidak sesuai, hal tersebut menjadi pahala bagi kita dan bahaya bagi orang yang mencela.
Celaan menjadi berbahaya apabila dimasukkan ke dalam hati, kemudian menimbulkan perasaan tersinggung dan kemarahan, lalu dibalas dengan celaan yang lebih buruk. Sikap seperti itu dapat merusak agama. Hakikatnya, celaan dapat menghilangkan riya, kesombongan dan ujub dalam hati. Ketika dicela, seseorang bersedih, dan kesedihan itu dapat menggugurkan dosa.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seorang hamba, Dia menjadikan hatinya patah.” Patah hati terkadang terjadi karena celaan yang membuat hati tunduk. Dengan demikian, seseorang dijauhkan dari kesombongan, cinta pujian, riya, dan penyakit hati lainnya.
Pujian manusia lebih banyak mendatangkan mudarat bagi diri kita. Karena itu, jangan mengharapkan pujian manusia atas ibadah dan amal saleh kita. Sebaliknya, celaan manusia dapat memberikan banyak manfaat. Jika berada di atas jalan Allah, jangan takut terhadap celaan manusia. Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أَخَافَ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkanku agar aku tidak takut di jalan Allah terhadap celaan orang yang mencela.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan At-Thabrani)
Celaan manusia tidak membahayakan diri kita. Bahkan, celaan itu dapat membahayakan orang yang mencela. Celaan manusia tidak menyebabkan kita masuk neraka dan tidak menyebabkan Allah murka. Sebaliknya, celaan itu dapat menambah pahala kita dan menjadi sebab murka Allah bagi orang yang mencela.
Ketika marah karena dicela, renungkan bahwa celaan itu tidak membahayakan kita. Bahayanya muncul ketika celaan dimasukkan ke dalam hati, kemudian menimbulkan perasaan tersinggung, kemarahan, dan keinginan membalas. Akhirnya, kita memperoleh dosa yang sama.
Khutbah Jumat Kedua: Hakikat Pujian dan Celaan Manusia
Allah membolehkan kita membalas dengan balasan yang setimpal.
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
“Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal.” (QS. Asy-Syura [42]: 40)
Namun, membalas dengan balasan yang setimpal sangat sulit ketika hati dipenuhi kemarahan. Sering kali seseorang ingin membalas lebih buruk sehingga dosanya menjadi lebih besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan agar tidak membalas.
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
“Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Namun, siapa yang memaafkan dan memperbaiki hubungan, maka pahalanya ada di sisi Allah.” (QS. Asy-Syura [42]: 40)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلَا تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ، فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ
“Apabila ada seseorang yang mencela serta menghinamu dengan aib yang ia ketahui ada pada dirimu, maka janganlah engkau membalas menghinanya dengan aib yang engkau ketahui ada pada dirinya. Karena sesungguhnya dampak buruk dari perbuatannya itu akan ditanggung olehnya sendiri.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Sikap tersebut tidak mudah. Diperlukan jiwa yang besar dan kekuatan untuk menahan amarah.
Download mp3 Khutbah Jumat: Hakikat Pujian dan Celaan Manusia
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Hakikat Pujian dan Celaan Manusia” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56553-khutbah-jumat-singkat-hakikat-pujian-dan-celaan-manusia/